Categories
Kiat Hukum

Menyelesaikan Piutang Macet Tanpa Resiko Dipidana

Akhir-akhir ini, sering terjadi seorang kreditor (pihak yang meminjamkan uang), dalam proses penagihan haknya justru dilaporkan pidana oleh debitor nya (pihak yang berutang, dalam hal menyelesaikan piutang macet). Hal tersebut terjadi karena beraneka sebab. Mulai dari karena penagihan yang dilakukan lewat medsos yang dianggap sebagai penghinaan, atau melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum pidana lainnya seperti merampas, menyita, mengancam, mengintimidasi, mencemarkan nama baik, dst.

Maka kreditor, perlu tahu resiko-resiko yang muncul dalam penagihan, dan menghindari resiko-resiko tersebut. Penagihan harus tetap tidak boleh melanggar hukum. Jika tidak menghasilkan, piutang tetap tidak terbayar, maka lebih baik tempuh jalur hukum.

Dalam melakukan penagihan, hindari melakukan perbuatan-perbuatan yang masuk wilayah pidana. Lebih baik lakukan penagihan sederhana-sederhana saja, emosi ditahan. Jangan sampai emosi meluap, lalu melakukan hal yang tidak-tidak, seperti memaki, menghina, mengancam, dst. Satu saja kesalahan kecil, bisa menjadi resiko hukum.

Lakukan penagihan dengan cara-cara yang sesuai dengan hukum, misalnya telpon baik, surati baik-baik. Dalam bahasa hukum, lakukan mediasi, kirimkan somasi. Jika masih macet, ajukan gugatan wanprestasi. Atau jika ada unsur-unsur pidana, seperti penipuan, atau pengggelapan, tempuh jalu hukum pidana juga. Yang penting, dalam proses penagihan, anda sebagai kreditor jangan sampai malah berbalik arah menjadi pihak yang dilaporkan. Bahkan jika perlu, jangan berikan ruang sedikitpun untuk debitor melakukan laporan pidana. Karena hal tersebut semakin sering terjadi, dimana debitor mencari celah agar kreditor berada di dalam posisi yang lemah dan memanfaatkannya untuk menekan penyelesaian utangnya.

Dalam penyelesaian utang piutang, biasakan untuk menyimpan bukti-bukti yang mendukung, mulai dari surat perjanjian. Jika tidak ada, segera bikin. Surat pengakuan utang. Bukti transfer. Bukti pembayaran. Jika perlu saksi-saksi. Supaya ketika kelak jika sampai masuk ke proses peradilan, anda berada dalam posisi yang kuat. Jika tidak ada bukti dan saksi, masih belum terlambat, dalam proses penagihan masih bisa diusahakan.
Pendek kata, hindari emosi, dan perbuatan perbuatan yang merugikan diri sendiri dalam proses penagihan piutang. Gunakan akal sehat, rencanakan dengan baik proses penagihan dan sabar menjalani prosesnya.