Categories
Kiat Hukum

Kiat Menghadapi Masalah Pidana: Perspektif Pengacara

Menghadapi masalah hukum, khususnya masalah di bidang hukum pidana, bisa jadi adalah masalah paling berat dalam hidup seorang manusia. Makan menjadi tak enak tidur menjadi tak nyenyak. Bahkan dalam banyak kasus, terperiksa, tersangka, terdakwa apalagi terpidana, sampai jatuh sakit. Hal tersebut tidak bisa disalahkan karena memang pada dasarnya proses pidana sangat berat untuk dijalani, ditambah lagi dalam prosesnya ada banyak campur tangan oknum yang membuat semakin ruwet proses yang terjadi.

Sudah beban pikiran dengan masalah hukumnya itu sendiri, ditambah resiko terhadap kesehatan, dan biaya yang dikeluarkan pun bisa jadi sangat besar, menguras keuangan dan tabungan keluarga.

Dalam tahap seperti itu, adalah penting untuk mendapatkan pendampingan dari seorang pengacara. Tentunya dengan mengikuti kiat2 memilih pengacara seperti pada tulisan sebelumnya, yang pada intinya, cari pengacara yang amanah dan kompeten. Tujuannya adalah memberikan pemahaman terhadap masalah hukum yang dihadapinya, dan memang spesialis di bidang pidana.

Setelah memahami masalahnya dengan baik, khususnya menyangkut aspek hukumnya, maka akan lebih mudah mencari jalan keluarnya. Setelah memahami masalah hukum pidana yang dihadapinya, maka barulah bisa memikirkan strategi menyelesaikannya. Tanpa pemahaman yang cukup, tentu solusinya akan amburadul.

Tips pertama adalah, selesaikan masalah tersebut sesuai jalur hukum yang ada. Tegakkan hukum dengan cara yang telah ditentukan oleh hukum. Jangan sampai menyelesaikan masalah hukum dengan cara melanggar hukum. Khusus dalam proses hukum pidana, ada kemungkinan akan ikut campur oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Dan mereka inilah yang membuat biaya menjadi sangat besar dan tidak terkendali. Maka tetapkan prinsip pertama untuk berpegang pada hukum yang berlaku.

Tips kedua adalah, apapun yang terjadi, utamakan kesehatan. Jangan sampai masalah hukum menjadi meluas menjadi masalah kesehatan. Kadang, masalah hukumnya belum tentu serius, bisa diselesaikan secara kekeluargaan, tapi karena stress maka menjadi sakit duluan. Ini akan menjadi kerugian berlipat-lipat.

Tips ketiga, tetapkan biaya secara terukur. Jangan sampai menyelesaikan masalah hukum at all cost. Artinya dengan segala biaya dan mengorbankan semuanya. Sedangkan setelah mengorbankan semuanya, belum tentu masalah hukumnya selesai.

Tips keempat, jangan mudah diintimidasi dan ditakut2i dalam proses hukum. Jangan mudah pula diimingi dengan penawaran2 yang tidak jelas. Jika mudah tergiur, besar kemungkinan akan terperosok biaya menjadi tidak terkendali. Jangan tertipu oleh bujuk rayu makelar kasus. Gunakan akal sehat dan tetaplah kritis. Jangan keluarkan uang sebelum jelas apa yang ditawarkan. Jangan keluar uang untuk hal-hal yang tidak jelas. Sudah banyak contoh terjadi bagaimana seseorang keluar uang habis-habisan namun masalah hukumnya tidak kunjung selesai.

Tips kelima, selesaikan masalah sedini mungkin jangan sampai berkembang terlalu jauh karena akan semakin sulit dihentikan dan biaya yang dikeluarkan akan semakin bengkak. Ada kasus-kasus yang mudah diselesaikan sejak dini sebenarnya. Misalnya pada delik-delik aduan. Dimana hanya dengan mediasi saja sebenarnya sudah bisa selesai baik baik. Namun jika sudah masuk penyidikan atau bahkan dakwaan, ya sudah sulit untuk dihentikan.

Categories
Kiat Hukum

Panduan Memilih Pengacara

Pada dasarnya memilih pengacara, sama saja seperti memilih jasa dari profesi lainnya, memilih dokter misalnya. Hal terpenting dari suatu profesi adalah masalah kejujuran, integritas, amanah tidak nya seseorang. Sepandai atau seintelek apapun seseorang, jika tidak amanah, maka yang terjadi adalah penyalahgunaan kepercayaan kita. Memilih seorang dokter, atau pengacara juga sama. Jika ybs tidak amanah, maka bisa jadi pasien atau client tersebut bisa terjerumus.

Hal kedua adalah masalah kompetensi. Baik itu dokter, ataupun pengacara, sama-sama bersekolah dan kuliah sebelum menjalani profesinya masing-masing. Bagaimana mereka menjalani masa belajar mereka akan menentukan kompetensi mereka saat ini. Jika mereka belajar dengan tekun, serius, dan mencintai keilmuannya, mereka akan berada pada level yang berbeda dari rekan-rekan mereka lainnya dalam arti punya bekal ilmu yang memadai untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya di dalam pekerjaannya.

Spesialisasi Bidang Hukum Pengacara

Karena tidak semua pengacara, atau bahkan tidak mungkin, seorang pengacara mampu menguasai semua bidang hukum dengan mendalam. Seorang pengacara hanya akan ahli di dalam beberapa bidang hukum saja, mungkin sekitar 2-4 bidang saja. Bahkan adakalanya hanya satu saja. Maka penting bagi seorang calon client untuk memastikan pengacara yang akan menangani kasusnya itu menguasai bidang masalahnya dengan baik. Dan jika tidak sesuai dengan ekpekstasi, tidak usah segan-segan mengganti dengan pengacara lainnya daripada menyesal seumur hidup. Seorang calon dokter atau pengacara yang di masa belajarnya suka menyontek misalnya, tentunya sulit diharapkan menjalani profesinya dengan baik. Bahkan akan kehilangan amanah dan kompetensinya sekaligus, bukankah begitu?

Masalahnya adalah, bagaimana menentukan seorang pengacara itu amanah atau tidak? pada dasarnya tidak ada patokan yang pasti, sama saja dengan kita menilai orang biasa lainnya. Dalam hal pengacara amanah, bisa dilihat karakternya atau tindak tanduknya, apa2 yg diucapkannya, dst. Jika si pengacara itu banyak menjanjikan hal-hal diluar akal sehat, menjamin kemenangan misalnya, dst itu besar kemungkinan sulit dipercaya. Atau suka berbicara tentang kenalann-kenalannyaa di dalam proses hukum, atau minta uang mulu tapi tidak kunjung memahami masalah hukum nya, dst itu tanda-tanda tidak amanah. Sebaiknya segera tinggalkan saja dan cari lainnya.

Kejujuran dan Kompetensi Pengacara

Dari dua hal tersebut, kejujuran dan kompetensi, kita bisa mulai melakukan pengukuran terhadap pilihan-pilihan yang ada. Apakah pengacara yang kita pilih merupakan orang yg amanah? apakah pengacara tersebut juga kompeten, dalam arti menguasai bidangnya?

Setelah dipandang cukup amanah, baru uji kompetensinya. Tanyakan atau minta penjelasan secara keilmuan hukum tentang masalah yg dihadapi. Jika mampu menjelaskan dgn baik, dalam bahasa hukum maupun dalam bahasa awam, maka itu sudah cukup baik. Dari apa yang disampaikan seorang pengacara, sebenarnya banyak yang bisa dilakukan untuk menilai kompetensinya. Baca juga artikel pengacara berikut.